republikpers.id
JAKARTA – PT Perkebunan Nusantara IV PalmCo, subholding dari Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero), mempercepat pengembangan proyek Compressed Biomethane Gas (CBG) berbasis limbah cair kelapa sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME) di berbagai wilayah operasional sepanjang 2026.
Inisiatif ini menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mendukung penurunan emisi karbon melalui pemanfaatan energi baru terbarukan berbasis sumber daya domestik.
Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko Santosa, menyampaikan bahwa pada 2026 perusahaan memprioritaskan pelaksanaan groundbreaking delapan unit CBG baru dari total 17 proyek yang direncanakan, dengan satu unit saat ini telah memasuki tahap pembangunan.
“Fokus kami tidak hanya membangun fasilitas, tetapi memastikan integrasi dari hulu ke hilir, mulai dari produksi, distribusi, hingga kepastian pasar melalui skema offtaker,” ujarnya.
Pengembangan CBG diarahkan untuk membangun ekosistem energi hijau yang berkelanjutan, sekaligus menciptakan nilai tambah dari limbah industri sawit yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.
Saat ini, PalmCo mengelola 68 pabrik kelapa sawit dengan kapasitas olah tandan buah segar (TBS) sekitar 12 juta ton per tahun. Dari proses tersebut dihasilkan sekitar 7,2 juta ton limbah cair POME setiap tahun yang menjadi salah satu kontributor emisi terbesar di pabrik kelapa sawit.
Melalui teknologi methane capture dan upgrading, limbah tersebut diolah menjadi biomethane dengan kandungan metana lebih dari 95 persen, yang selanjutnya dikompresi menjadi CBG sebagai substitusi gas alam, seperti compressed natural gas (CNG).
Dari sisi lingkungan, pemanfaatan POME memiliki dampak signifikan. Limbah ini berkontribusi sekitar 44 persen terhadap total emisi gas rumah kaca di pabrik kelapa sawit, dengan estimasi mencapai 200 kilogram CO2 ekuivalen per meter kubik. Pengolahannya menjadi CBG mampu menekan emisi sekaligus meningkatkan nilai ekonomi limbah.
Bagian dari Strategi Dekarbonisasi
Jatmiko menegaskan bahwa proyek CBG merupakan salah satu pilar utama dalam strategi dekarbonisasi perusahaan, serta sejalan dengan dukungan terhadap agenda Proyek Strategis Nasional (PSN).
“Ini bukan sekadar proyek energi, tetapi bagian dari kontribusi kami terhadap target penurunan emisi nasional,” ujarnya.
Dalam roadmap dekarbonisasi, hingga 2030 PalmCo menargetkan optimalisasi sekitar 40 pabrik kelapa sawit untuk pengembangan energi baru terbarukan, baik melalui pembangkit listrik tenaga biogas, CBG, biogas co-firing, maupun pembangkit listrik tenaga biomassa.
Program tersebut diproyeksikan mampu menurunkan emisi hingga 230.000 ton CO2 ekuivalen pada 2026, dengan potensi penurunan mencapai 0,9 juta ton CO2 ekuivalen hingga 2030.
Selain manfaat lingkungan, proyek ini juga memiliki potensi ekonomi yang signifikan. PalmCo memperkirakan peningkatan nilai hingga 22 kali lipat dibandingkan skema bisnis konvensional, dengan potensi pendapatan sekitar Rp42,5 miliar per tahun yang berasal dari skema bagi hasil, kredit karbon, serta pemanfaatan aset lahan.
Untuk distribusi, produk CBG akan diserap oleh PT Pertagas melalui skema free on board (FOB). Pengiriman dilakukan menggunakan truk menuju Sei Mangkei sebagai salah satu pusat permintaan guna memastikan kesinambungan rantai pasok energi hijau.
Transformasi Berkelanjutan
Jatmiko menambahkan bahwa pengembangan CBG merupakan bagian dari transformasi jangka panjang perusahaan dalam menjaga keberlanjutan bisnis di tengah tuntutan dekarbonisasi global.
“PalmCo ingin memastikan setiap langkah bisnis tidak hanya memberikan keuntungan ekonomi, tetapi juga berdampak nyata bagi lingkungan dan ketahanan energi nasional,” ujarnya.
Sejalan dengan arah transformasi Holding Perkebunan Nusantara, inisiatif ini menegaskan pergeseran peran industri sawit, dari penghasil komoditas menjadi bagian penting dalam ekosistem energi terbarukan nasional.**/
Ramsyah/red



Social Header