republikpers.id
PONTIANAK Minggu 19 April 2026) Upaya menekan beban Tuberkulosis di Indonesia yang masih menempati peringkat kedua dunia terus diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor. Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung (ITB) bersama Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Layanan Kepakaran ITB menyelenggarakan rangkaian kegiatan community development sebagai langkah strategis dalam menekan angka kejadian serta meningkatkan pencegahan Tuberkulosis (TBC), khususnya pada anak, di wilayah endemis Kalimantan Barat. Kegiatan ini didukung pendanaan dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dan dilaksanakan pada 17-18 April 2026 di Puskesmas Pal Tiga, Kota Pontianak.
Kegiatan ini melibatkan berbagai sasaran, mulai dari anak-anak usia 5-12 tahun, orang tua dan para kader kesehatan, hingga para apoteker puskesmas di bawah koordinasi Dinas Kesehatan Kota Pontianak. Salah satu agenda utama adalah pelaksanaan Focus Group Discussion (FGD) sebagai upaya penguatan kapasitas apoteker dalam penanggulangan serta pencegahan TBC anak.
Data Dinas Kesehatan Kota Pontianak menunjukkan, pada 2025 terdapat 2.245 kasus TBC, dengan penemuan kasus baru mencapai 1.196 dan tingkat kesembuhan 91 persen. “Angka ini menunjukkan capaian yang baik, tetapi upaya pencegahan dan pengendalian tetap harus diperkuat melalui kolaborasi lintas program,” ujar apt. Pandu Wibowo, S.Si., Ketua tim kefarmasian dan perbekalan kesehatan Dinas Kesehatan Kota Pontianak saat membuka kegiatan.
FGD yang diikuti 15 apoteker yang bertugas di 23 puskesmas di Kota Pontianak ini mengungkap kesenjangan peran di lapangan. Mayoritas peserta mengakui bahwa praktik kefarmasian dalam program TBC masih didominasi hanya pada aspek pengelolaan obat, sementara keterlibatan dalam pelayanan klinis dan edukasi pasien belum optimal. Padahal, dalam strategi eliminasi serta pencegahan TBC, apoteker memiliki posisi strategis dalam edukasi, pemantauan kepatuhan terapi, hingga pendampingan pasien dan keluarga.
Dalam pelaksanaannya, FGD menghadirkan narasumber utama, apt. Ilman Silanas, M.Ked., M.Farm.Klin, yang merupakan apoteker Apoteker Depo Poli DOTS TB MDR di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS). Ia menegaskan bahwa paradigma tersebut harus segera diubah. “Apoteker bukan sekadar distributor obat. mereka adalah garda terdepan dalam memastikan keberhasilan terapi, mencegah putus obat, dan memutus rantai penularan, “ tegasnya.
Ia juga menyoroti pengalaman pasien yang kerap menghadapi antrean panjang di fasilitas kesehatan. dalam kontes ini, apoteker dituntut tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga mampu memberikan layanan yang berorientasi pada kepuasan dan kebutuhan pasien.
Diskusi yang terbagi dalam tiga kelompok ini menggali berbagai isu kunci, mulai dari pemahaman tentang TBC dan obat anti tuberkulosis (OAT), praktik pelayanan kefarmasian, alur rujukan dan kolaborasi interprofesional, hingga hambatan serta kebutuhan pengembangan kapasitas di lapangan. FGD ini menjadi ruang dialog penting untuk mengelaborasi praktik yang telah berjalan sekaligus merumuskan langkah implementatif bersama dalam upaya pencegahan dan eliminasi TBC pada anak.
Sementara itu, Ketua panitia, Dr. apt. Pratiwi Wikaningtyas, menegaskan bahwa TBC merupakan permasalahan multidimensional yang tidak dapat diselesaikan oleh satu profesi/ stakeholder saja. “FGD ini kami dorong tidak berhenti sebagai forum diskusi, tetapi menghasilkan rekomendasi konkret yang dapat dirumuskan menjadi policy brief, setidaknya di tingkat regional Kota Pontianak,” ujarnya.
Kegiatan ini menjadi sinyal penting bahwa transformasi peran apoteker di layanan primer merupakan kebutuhan mendesak dalam strategi eliminasi Tuberkolosis nasional. Di tengah target eliminasi TBC pada 2030, peran apoteker di daerah semakin krusial, tidak lagi sebatas pengelolaan obat, tetapi juga memastikan kepatuhan terapi pasien, memberikan edukasi yang tepat, mendampingi pasien hingga tuntas menjalani pengobatan, serta berperan aktif dalam upaya pencegahan TBC, khususnya pada anak.**/
(Ramsyah)



Social Header