republikpers.id
BANDUNG BARAT Duka masih menyelimuti kawasan perbukitan Cisarua setelah hujan deras memicu pergerakan tanah di Kampung Pasir Kuning, Desa Pasirlangu, pada Sabtu (24/1) dini hari. Tragedi tanah longsor yang berdampak pada 113 jiwa tersebut menjadi pengingat kuat akan kerentanan ekosistem di wilayah pegunungan Jawa Barat.
Merespons bencana tersebut, Holding Perkebunan Nusantara melalui entitasnya, PTPN I Regional 2, bergerak cepat melakukan penanganan di lapangan. Selain menyalurkan bantuan darurat bagi para penyintas, perusahaan juga menyiapkan langkah strategis jangka panjang berupa program restorasi lahan seluas 14.000 hektare sebagai upaya mitigasi untuk mencegah kejadian serupa di masa depan.
Manajemen perusahaan menegaskan bahwa pemulihan kondisi sosial masyarakat dan keselamatan ekologi menjadi prioritas utama yang melampaui kepentingan operasional semata.
Region Head PTPN I Regional 2, Desmanto, turun langsung meninjau lokasi pengungsian pada Senin (26/1) guna memastikan distribusi bantuan logistik berjalan optimal. Bantuan yang disalurkan mencakup bahan pangan, susu, selimut, serta kebutuhan harian bagi warga terdampak.
“Kami hadir tidak hanya untuk berbagi beban di masa sulit, tetapi juga memastikan masyarakat memiliki harapan untuk bangkit. Namun kepedulian kemanusiaan harus berjalan seiring dengan perbaikan ekosistem,” ujar Desmanto.
Menurutnya, bencana ini menjadi momentum evaluasi tata kelola lahan di wilayah dengan topografi ekstrem. PTPN I Regional 2 kini bersinergi dengan Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) dan Danantara untuk merancang langkah preventif yang lebih komprehensif.
“Fokus kami diarahkan pada mitigasi jangka panjang melalui rencana restorasi lahan seluas 14.000 hektare di wilayah Jawa Barat,” tambahnya.
Program restorasi tersebut akan dilakukan secara bertahap dengan mengonversi lahan yang saat ini didominasi tanaman sayuran semusim menjadi perkebunan permanen. Komoditas yang akan dikembangkan meliputi teh, kopi, serta tanaman kayu tahunan yang memiliki struktur perakaran kuat untuk memperkokoh stabilitas tanah di lereng curam.
“Restorasi ini merupakan investasi keselamatan. Perakaran tanaman tahunan yang dalam akan membangun pertahanan alami demi melindungi generasi mendatang,” jelas Desmanto.
Strategi pemulihan ekosistem ini juga dirancang secara inklusif dengan melibatkan masyarakat lokal sebagai bagian dari solusi. Warga sekitar akan diberdayakan sebagai tenaga kerja dalam program reboisasi dan pengelolaan kebun berkelanjutan.
Melalui kolaborasi antara penghijauan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat, diharapkan tercipta keseimbangan antara keselamatan lingkungan dan keberlanjutan usaha perkebunan nasional di Jawa Barat. Langkah ini sekaligus menegaskan komitmen Holding Perkebunan Nusantara dalam menjalankan tanggung jawab sosial dan pengelolaan lingkungan berbasis prinsip keberlanjutan.**/(Ramsyah)



Social Header