Breaking News

PROF SUTAN NASOMAL INGATKAN PRESIDEN RI: SUDAH MANUSIAWIKAH MENYIKAPI SUARA PEKERJA INDONESIA (MAYDAY)


Miris sekali bila harus mempertahankan peraturan yang tidak manusiawi. Aturan yang error mengapa dipertahankan oleh penguasa sebagai pengendali pemerintahan. 20 tahun peringatan MayDay agar sistem kontrak kerja di hapuskan tidak juga dilaksanakan. Ganti Presiden dan pemerintahan beberapa kali malah nasib tenaga kerja Indonesia semakin kehilangan hak dan keadilan. 
Seharusnya Negara menghapuskan outsourcing di alur tenaga kerja yang menguntungkan pihak luar.

Jakarta, Dari Masa Ke masa Kehidupan buruh di Indonesia seperti itu itu saja dalam arti kata sistem outsourcing selalu menggantung disematkan dalam dunia buruh di Indonesia hingga hari ini Disayang kan ironis memang. kita harapkan di HUT MAY DAI Buruh tahun 2026 ke 20 tahun satu dasawarsa ini yth Bapak Presiden Jenderal Haji Prabowo Subianto memerintahkan bawahannya untuk menggodok perpu peppers yang isinya hapus sistem outsourcing kontrak di perusahaan pabrik perusahaan diseluruh Indonesia agar dunia buruh Damai tenang sejahtera di masa masa akan datang semoga", ujar Prof Dr KH Sutan Nasomal SH MH Pakar Hukum Internasional yang juga Ketua Umum Perkumpulan Advokat Muda Indonesia (Pamid) Assosion Of Young Indonesian Advocates menjawab pertanyaan para pemimpin Redaksi Media Cetak Onlen dalam luar negeri dikantornya Markas Pusat Partai Koalisi Rakyat Indonesia dibilangan Cijantung Jakarta 3/5/2026 bisa telpon selulernya

Untuk kembali di ingatkan Pada Thn 2009 Calon Presiden RI Prabowo Subianto menyatakan kesepakatannya untuk menolak sistem outsourcing (perekrutan tenaga kerja sistem kontrak) karena tidak manusiawi dan tidak sesuai dengan pengamalan Pancasila.

"Pada sistem outsourcing, pekerja hanya dianggap seperti barang, setelah digunakan lantas ditinggalkan. Ini merugikan masyarakat. Tidak Manusiawi dan melanggar ajaz ajaz Manusiawi.

Tenaga Kerja Indonesia Kalau hanya dijadikan sapi perah dan kekayaan diambil oleh pihak asing setiap tahun, mustahil kehidupan buruh, petani, dan rakyat Indonesia menjadi lebih baik," ujarnya.
( https://share.google/RA0Avu5CLXrFEYxck)
Prof Dr Sutan Nasomal SH,MH menyampaikan kepada media bahwa reaksi aspirasi rakyat dan buruh setiap hari MAYDAY hanya mendapatkan mimpi yang tak pernah terwujudkan. Dengan fakta bahwa pemegang dan pengendali pemerintahan tidak bisa mewujudkan.

Bahkan dengan aturan aturan yang rumit masyarakat yang sedang mencari pekerjaan sering kali di buntukan dengan adanya kontrak jangka pendek serta uang pelicin bila melamar ketempat pekerjaan. Posisi pekerja mengalami tekanan akibat aturan yang dibuatkan tidak manusiawi. Dimana tidak ada aturan seharusnya masyarakat lokal 50% memiliki kesempatan bekerja di setiap pabrik yang baru di dirikan. Sisanya masyarakat dari daerah luar tersebut. Ini malah masyarakat lokal menjadi pengangguran terbesar.

Ratusan ribu buruh melakukan aksi memiliki tujuan agar peraturan terkait tenaga kerja di pemerintahan dan organisasi buruh lebih manempatkan pada aturan MANUSIAWI bagi seluruh pekerja di Indonesia. 

*Benarkah sudah manusiawi peraturan untuk tenaga kerja Indonesia*

Mulai dari gelombang PHK, praktik kerja tidak layak, hingga ketimpangan perlindungan sosial. Oleh karena itu, ASPIRASI menyampaikan 8 Tuntutan Mayday 2026.
Negara harusnya memahami betul bahwa ajaz ajaz manusiawi diterapkan di semua peraturan dan undang undang. Menempatkan semua peraturan dan undang undang serta tatanan hukum agar tidak berbenturan dengan pertimbangan sudah manusiawikah semua ini. Maka selalu menjadi perbincangan yang ramai dan tidak pernah sepi. Melegalkan penindasan dan perbudakan sangat ditentang oleh Hak Asasi Manusia. Maka Prof Dr Sutan Nasomal menghimbau Presiden RI untuk melihat lebih dalam : 

*Apakah sudah MANUSIAWI UMR untuk pekerja INDONESIA*

*Apakah sudah MANUSIAWI peraturan tenaga kerja yang di berlakukan*

*Apakah sudah MANUSIAWI menempatkan posisi tenaga kerja Indonesia untuk kepentingan para orang kaya yang memiliki kekuatan di dalam dunia industri*

Bila Negara Indonesia melupakan tujuan kemerdekaan untuk mengangkat harkat drajat masyarakat Indonesia dengan mengutamakan ajaz ajaz MANUSIAWI maka Prof Dr Sutan Nasomal SH,MH mengetuk semua pilar nasional RI dan semua instrumen nasional RI untuk menegakkan ajaz MANUSIAWI.
Bila dikatakan saat ini semua aturan dan hukum yang ditegakkan sudah MANUSIAWI untuk tenaga kerja maka itu hanya pencitraan dialog seremonial pagi yang sudah basi yang tidak bisa dipertanggungjawabkan dan merugikan masyarakat.

Semua Negara dan Sumber kehidupan tidak berdaya ketika AI dan Tekhnologi menggantikan posisi manusia. Maka ajaz ajaz manusiawi menjadi tidak berlaku. Apakah kemandirian kemajuan dan kehebatan AI dan Tekhnologi akan menciptakan perang besar dalam menjaga tatanan dan norma norma kehidupan serta ajaz ajaz manusia.

MAYDAY jangan dijadikan alat untuk mengukur dan mempermainkan nasib para pekerja INDONESIA di balik keserakahan para penguasa dunia saat ini. Melupakan ajaz ajaz Manusiawi.


Prof Dr Sutan Nasomal SH.MH menghimbau Presiden RI agar hadir sebagai Bapak Indonesia yang berani melawan segala bentuk perbuatan dan aturan yang merugikan ajaz ajaz MANUSIAWI. Jangan biarkan darah dan nafas masyarakat Indonesia di jajah lagi oleh pihak pihak yang tertawa di atas air mata keringat dan darah masyarakat saat ini

Narasumber : Prof Dr Sutan Nasomal SH,MH

Editor Nofis
© Copyright 2022 - REPUBLIKPERS.ID